Urip Sumoharjo



Letnan Jenderal Urip Sumoharjo adalah sosok militer sejati yang memberikan kontribusi besar dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Lahir pada 22 Februari 1893 di Purworejo, Urip Sumoharjo menjadi pejabat tertinggi pertama dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan jabatan Kepala Staf Umum TKR. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, tugu, bahkan rumah sakit sebagai penghargaan atas jasanya.

Pendidikan dan Awal Karier Militer


Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Urip melanjutkan studi ke OSVIA di Magelang, sebuah sekolah calon pamongpraja pada masa penjajahan Belanda. Namun, keinginannya untuk terjun ke dunia militer membawanya pindah ke Jakarta, di mana ia mendaftarkan diri ke sekolah militer di Jatinegara. Urip berhasil menyelesaikan pendidikan militernya pada tahun 1913.

Awal kariernya sebagai anggota Tentara Hindia Belanda (KNIL) menunjukkan dedikasinya kepada bangsa Indonesia meskipun bekerja untuk pemerintah kolonial. Sikapnya yang tegas terhadap ketidakadilan terhadap perwira pribumi membuatnya menjadi tokoh panutan bagi sesama perwira KNIL berdarah Indonesia.

Pengunduran Diri dan Penolakan terhadap Jepang


Setelah beberapa tahun berdinas di berbagai tempat, pada tahun 1938, Urip Sumoharjo memutuskan untuk mengundurkan diri dari KNIL sebagai protes terhadap ketidakadilan yang dialaminya. Meskipun dihadang oleh tentara Jepang setelah pengunduran dirinya, Urip tetap menolak tawaran jabatan sebagai Komandan Polisi, menunjukkan komitmennya untuk tidak berkompromi dengan penjajah.

Peran Penting dalam Proklamasi Kemerdekaan


Setelah proklamasi kemerdekaan, Urip Sumoharjo mendesak pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 untuk menghadapi ancaman terhadap kedaulatan negara. Sebagai Kepala Staf Umum TKR, ia menjadi pejabat tertinggi pertama dalam organisasi tersebut. Kontribusinya dalam menyempurnakan TKR dan mendirikan Akademi Militer Nasional (AMN) menandai peran pentingnya dalam pembangunan militer Indonesia.

Penghargaan dan Pengakuan Sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional


Meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo terus berdedikasi untuk kemajuan TNI. Penghargaan yang diterimanya, termasuk Bintang Kartika Eka Pakci Utama dan Bintang Republik Indonesia Adipurna, mencerminkan pengakuan atas jasa-jasanya.

Urip Sumoharjo dikenal sebagai bapak Angkatan Perang Republik Indonesia, bersama dengan Jenderal Sudirman. Pada 17 November 1948, ia tutup usia di Yogyakarta akibat serangan jantung. Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Urip Sumoharjo sebagai penghormatan atas jasanya.

Nama Urip Sumoharjo terus diabadikan dalam sejarah Indonesia sebagai pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan dan profesionalisme militer. Nama jalan, tugu, dan rumah sakit yang memakai namanya menjadi simbol penghargaan bagi sosok yang memegang teguh disiplin dan komitmen pada tugas dan kewajiban.

Urip Sumoharjo
Nama LengkapLetnan Jenderal Urip Sumoharjo
Nama KecilMuhammad Sidik
Tempat LahirPurworejo
Tanggal Lahir22 Februari 1893
Tempat MeninggalYogyakarta
Tanggal Meninggal17 November 1948
Tempat MakamTaman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta
AyahSumoharjo (Kepala Sekolah, Tokoh Islam)
IbuRaden Tumenggung Wijoyokusumo
IstriRohmah Soebroto
AnakAbby (Anak Angkat)
AgamaIslam
Gelar KepahlawananPahlawan Kemerdekaan Nasional (SK Presiden RI No. 314 Tahun 1964, 10 Desember 1964)
Gelar KehormatanBapak Angkatan Perang Republik Indonesia (Bersama Jenderal Sudirman)
Pendidikan- Pendidikan Dasar di OSVIA (Sekolah Calon Pamongpraja) di Magelang
- Sekolah Militer di Jatinegara, Jakarta (Tamat tahun 1913)
Karier Militer- Anggota Tentara Hindia Belanda, KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger)
- Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat Letnan Jenderal
- Penasihat Militer Presiden
Penghargaan- Tugu Urip Sumoharjo dibangun oleh Akademi Militer Indonesia di Magelang pada 22 Februari 1964
- Jenderal Penuh secara anumerta
- Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968)
- Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967)
- Bintang Mahaputra (1960)
- Bintang Sakti (1959)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Harun Masiku, Kenapa Sulit ditangkap?

Yamaha SR400

Frekuensi RCTI Digital